Kamis, 14 Juli 2016

Menunggumu (Cerpen)

Jakarta, 10 Mei 2021.


Hari ini tepat lima tahun aku meninggalkan ibu kota. Hari dimana aku mencoba melupakan kisah kelamku--dengan seseorang dimasa lalu--. Sibuk berdamai dengan diri yang selalu egois dengan keinginan-keinginan yang nyatanya tak membawa perubahan baik pada diriku sendiri. Ya itulah aku, seseorang yang sangat keras akan pendiriannya, yang sangat percaya akan kata hati dan intuisinya. Padahal kata hati dan intuisi terkadang tak selalu benar, bukan?

Dan hari ini aku kembali...

Ya, aku kembali. Kembali ke tempat ini lagi. Seketika ingatan itupun terulang kembali. Akan tetapi deringan handphone-ku membuatku menghentikan lamunanku. Kulihat layar handphone-ku, tertera tulisan Fani's calling. Ah dasar anak itu, selalu saja menggangguku.

"Halo fan, ada apa sih? ganggu gue aja lo", gerutuku padanya.
"Ih kok lo gitu sih? Jadi gue ganggu nih? Yaudah gue tutup deh telponnya."
"Etdah ni anak, baper amat yak? Gue cuma bercanda fani sayangggg."
"Plis deh nis, ga usah pake sayang-sayangan ya. Gue langsung to the point aja deh, lo dateng kan ke acara reuni SMA kita nanti?". Skakmat fani padaku.
Deg! Pertanyaan fani sangat tepat sasaran. Mati sajalah kau nis!, umpatku dalam hati.
"Emm, ga tau deh fan. Liat aja nanti ya." Jawabku sekenanya.
"Kok gitu sih nis? Pokoknya lo harus dateng! Cukup pas perpisahan aja lo ga dateng dan pergi gitu aja ke Jogja tanpa pamit sama gue dan juga dia. Lo kan dulu juga udah janji ke gue bakal dateng ke acara reunian SMA. Mau sampe kapan sih nis lo terpuruk gara-gara bajingan itu? Apa 5 tahun ga cukup buat nyembuhin hati lo?", cerca fani sarkastik.
"Jujur aja fan, gue belom bisa ngelupain semua itu. Gue belom sanggup ketemu lo dan terutama... dia fan.", lirihku.
"Mau sampe kapan sih lo gini terus? Lo ga bisa terus begini nis. Sama aja lo itu nyiksa diri lo! Lo harus hadepin semua ini nis, lo harus bangkit. Jangan cuma gara-gara si brengsek itu elo ga bisa raih mimpi-mimpi lo lagi. Ada gue, ada dia juga yang nunggu elo. Kita siap ngebantu lo buat hadepin semua ini, nis! Inget nis, lo harus dateng, gue tau elo orangnya ga pernah ingkar janji! Gue tunggu lo disana, lo tau tempatnya kan? Yaudah gue cuma mau ngomong gitu aja, bye!".

Ucapan Fani begitu menohok diriku. Ku tatap kembali secarik kertas tersebut. Acara Reuni SMA Harapan Bangsa. Inilah alasan ku kembali ke kota ini, untuk memenuhi janjiku kepada Fani, sahabat karibku. Dan juga untuk menemuinya--seseorang yang tanpa kusadari telah mengisi relung hatiku, menghapus sedikit demi sedikit kesakitan yang sedang kurasakan--. Dia adalah Alfa, seseorang yang dengan kesederhanaannya berhasil memikat hatiku waktu pertama kali dia mengajakku bicara. Pasti kalian kira kami sekelas bukan? Haha, jawabannya adalah tidak. Kami adalah teman beda kelas--yang hanya saling tahu nama saja--. Alfa adalah salah satu personel band di sekolah kami. Walau begitu, aku belum tertarik dengan dirinya. Ketertarikan ku muncul disaat kami berada dalam satu kelompok belajar. Saat itu pertama kali kami berbicara, dalam konteks pelajaran tentunya. Hari-hari pun berlalu, kami pun semakin akrab, tanpa kusadari ku terpikat pada sosok seorang Alfa. Dia adalah sosok yang berbeda, terutama jika dibandingkan dengan bajingan itu. Akan tetapi, luka itu kembali menyadarkanku. Aku takut untuk memulai hal baru kembali. Ya, trauma itu selalu menghantuiku. Pada akhirnya, aku memendam perasaanku terhadap Alfa. Mencintainya dalam diam, berharap jika trauma itu hilang, sehingga aku bisa memulai kisahku dengan dia--Alfa.

Lamunanku terhenti. Kulihat jam dinding menunjukkan jam 12 siang. Aku terlonjak, bergegas untuk bersiap-siap. Fani benar, mau tak mau aku harus datang. Ini janjiku, janji yang telah kuberikan kepada Fani dan dirinya, Alfa.

Kutatap gedung didepanku. SMA HARAPAN BANGSA. Seketika bayangan Alfa menari-nari di pikiranku. Oh Tuhan, aku rasa aku telah gila karena cinta! Ku hembuskan nafas panjang, kulangkahkan kaki ku untuk masuk ke gedung ini, kucoba mengikuti kata hatiku kemana aku akan melangkah, hingga akhirnya langkahku pun terhenti. Perpustakaan. Bayangan tentang kami--aku dan Alfa--menari kembali di pikiranku. Hingga akhirnya ku beranikan diriku untuk masuk kedalam ruangan tersebut. Tak ada yang berbeda dari ruangan tersebut, masih sama persis saat terakhir kali aku berada di tempat ini. Tak lama kemudian aku mendengar suara itu, suara yang telah lama aku rindukan.

"Nisa? Kamu nisa kan?", Alfa--seseorang yang sangat aku rindukan itu--memanggilku.
"Alfa? Ini kamu? Kamu gak banyak berubah ya, haha. Kamu apa kabar? Gimana kuliahnya? Udah wisuda? Atau malah sekarang udah kerja?". Tanyaku. Basi banget kamu nis, padahal kan kamu itu stalkers abadi dia, pake sok-sokan nanya segala, kamu kan udah tau dia kerja dimana. Dasar modus!, Batinku berbicara. Sialan.
"Alhamdulillah aku baik-baik aja kok nis, udah wisuda dan udah kerja juga. Oh iya, ada sesuatu hal yang mau aku omongin ke kamu." Tanya Alfa.
"Oh mau ngomong apa Al? Ngomong aja kali.", Jawabku. Jujur aja aku tegang. Tuhan, tolong bantu aku.
"Gini, soal perkataannya Fani, apa semua itu bener? Tentang perasaan kamu ke aku, semuanya serius?", Tanya Alfa serius.

Ya, aku rasa ini adalah waktu yang tepat. Tuhan, bantu aku, kumohon.

"Iya Al, semuanya bener. Tentang perasaan itu juga bener. Maaf kalo kamu gak suka sama semua ini. Kamu bisa kok ngelupain semua perasaan aku. Anggap aja aku masih sama seperti dulu, masih temanmu.", Jawabku lirih.
"Jujur nis, aku seneng banget kalo kamu punya perasaan yang sama seperti aku. Tapi kenapa waktu itu kamu pergi? Apa kamu gak ingin kita bersama?" Tanya Alfa kepadaku.
"Bukan begitu Al, aku hanya merasa gak pantas bersama kamu, kamu itu terlalu sempurna buat aku, apalagi aku belum yakin apakah aku bisa sembuh dari trauma ku ini. Trauma akan hubungan yang serius Al. Aku bener-bener gak tau Al harus gimana." Jawabku terisak.
"Sstt, kamu ga boleh ngomong gitu Nisa, ga ada manusia yang sempurna. Dan masalah trauma itu, apa 5 tahun belum cukup untuk menghilangkan trauma itu? Jika belum, maka beritahu aku berapa lama lagi aku harus menunggumu, Nis?", Tanya Alfa serius.

Deg! Akupun tertegun. Sungguh tak menyangka bahwa dia, Alfa mengatakan hal seperti itu. Betapa beruntungnya aku!

"Bantu aku Al, bantu aku untuk memmusnahkan trauma itu."

Dan akhirnya akupun menangis di bahu Alfa. Menyandarkan semua beban yang selama ini kupikul sendiri.

Rabu, 25 Mei 2016

Coretan Masa Lalu (Cerpen)

Seperti biasanya, malam ini ku lalui dengan kesedihan, dengan tangisan, dan dengan air mata.

Ya, sekarang hanya ada penyesalan semata, terlebih sesalku tentang 'mengapa ku mengenalmu'.

Bisakah aku kembali ke masa lalu? Mengubah semua kejadian yang telah lalu?

Bila saja ku tak pergi ke kota ini, mungkin kita tak akan pernah bertemu, mungkin kita tak akan pernah mengenal, dan mungkin tak akan pernah ada cerita tentang 'kita'.

Cerita tentang kita? Cih, yang benar saja. Apa masih pantas kau menjadi bagian dari cerita ini setelah apa yang kau lakukan kepadaku?

Mungkin tak ada yang tahu akan sikapmu yang keji menyerupai iblis itu. Ku akui kelihaian sandiwara mu itu.

Perangai nan indah berbalut kesan misterius. Kau berhasil memainkan peranmu dengan sangat baik.

Hingga semua terbuai akan lihainya sandiwaramu yang tanpa celah itu, termasuk diriku.

Bertahun-tahun ku masuk dalam perangkap 'indah' milikmu. Ku berikan semuanya padamu. Kesedihan, kegembiraan, kepercayaan, kisah kelamku, serta... hati ini pun ku berikan padamu.

Hingga saat itu tiba. Terungkaplah semua kebohongan itu. Semua hanya sandiwara belaka. Memang sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga, kan?

Setelah itu aku hanya bisa meratapi diri ini. Timbul lah berbagai pertanyaan kepada Sang Pemilik hati ini, Yang memiliki jiwa ini.

Untuk apa dia melakukan semua ini? Apa untungnya untuk dia? Kenapa aku harus mengenalnya? Kenapa harus aku yang mengalami semua ini? Kenapa harus aku, Tuhan? Kenapa?

Dan akhirnya aku mengambil kesimpulan dari semua peristiwa ini. Semua ini merupakan takdir-Nya. Takdir yang tak bisa diganggu gugat oleh hamba-Nya.

Tetapi aku hanyalah manusia biasa yang dengan mudahnya terhasut oleh bujuk rayu setan, bukan seorang manusia yang mempunyai hati suci nan bersih bak malaikat.

Aku butuh pelampiasan. Aku tak sanggup menahan beban ini sendirian. Dan pada akhirnya ku luapkan semua emosi ku pada nya.

Dia, yang telah menyia-nyiakan kepercayaan ku.

Dia, yang telah menghancurkan hidupku dan juga hatiku.

Dia, yang telah membuatku hancur berkeping-keping.

Ya, semua sindiran, makian, cacian, serta cercaan ku keluarkan untuk dirinya. Bahkan, dia pantas mendapatkan yang lebih dari ini.

Lalu apa yang dia lakukan? Apakah dia membalas semua perlakuan ku itu?

Tidak, dia tidak membalasnya. Yang dia lakukan hanya mencoba meminta maaf, mencoba menjelaskan tentang semuanya, dan mencoba membela diri juga, pastinya.

Apakah aku memaafkannya begitu saja? Aku akan menjawab tidak. Ya, aku tidak memaafkannya. Aku sangat kecewa, marah, hancur, apalagi saat mendengar alasan mengapa ia melakukan semua ini.

Hanya karena satu alasan, yaitu hanya bermain saja. Hanya bercanda saja.

Kau pikir kepercayaan itu adalah mainan? Kau pikir hati dan perasaan ini merupakan sebuah permainan?

Semuanya telah hancur. Kepercayaan terhadap seseorang dan juga terhadap cinta sejati mungkin tak akan bisa ku dapatkan kembali.

Akan tetapi, aku tak ingin terus berlarut dalam kesedihan ini. Perjalanan ku masih panjang, aku tak boleh kalah dengan kisah roman picisan yang rendahan seperti ini.

Ya, roman picisan rendahan yang telah membunuh perasaanku, mematikan hatiku.

Pada akhirnya, aku memutuskan untuk mencoba berdamai dengan masa lalu. Ya, aku mencoba memaafkannya.

Akan tetapi dengan tidak tahu malunya, ia memintaku menjadi teman dekatnya, menjadi sahabatnya.

Hei, apakah kau tidak punya malu lagi, Hah? Meminta orang yang telah kau sakiti hatinya, kau hancurkan kepercayaannya untuk kau jadikan sahabatmu? Aku tak sudi, kau tahu.

Katakanlah aku jahat, picik, atau tak berperikemanusiaan. Kuakui diriku bukanlah seseorang yang bisa berbesar hati memaafkan semua kesalahan. Tapi apakah kalian tahu? Aku hanya mengikuti kata hatiku, membiarkan intuisi ku berjalan. Aku hanya tak ingin diperlakukan seperti hari kemarin, untuk kesekian kalinya.

Jika ditanya berhasilkah diriku dalam berdamai dengan masa lalu, jawabannya tidak.

Mungkin tak ada yang tahu, karena topeng inilah penyebabnya. Topeng yang dihiasi dengan senyum dan tawa lebar.

Lalu bagaimana dengan keadaan hati ini? Kupikir masih sama seperti kemarin, disaat kebohongan itu terbongkar.

Sakit. Sangat sakit.

Dan seperti biasanya, malam ini ku lalui dengan kesedihan, dengan tangisan, dan dengan air mata.

Sabtu, 03 Mei 2014

Syukur

Hai semuanyaaa^^
Karena hari ini ga punya ide buat nulis di blog, jadi gue pengen cerita aja tentang kejadian hari ini aja deh. Okefix, blog gue kayaknya bakal jadi diary dadakan-___-

Kebetulan banget hari ini gue libur, jadinya gue bisa ngejer deadline gue yang seabrek-abrek itu dan harus udah selesai bulan juni nanti. Inget, BULAN JUNI!!! Akhirnya seperti biasa, gue pergi dengan mobil dan supir yang selalu ganti-ganti (read:angkot). Hahaha, hebat ga gue? Gue yakin, presiden pun ga bakal bisa kayak gue B).
Ga perlu nunggu lama akhirnya gue langung masuk ke mobil (read:angkot). Ada penumpang yang lain juga sih, dan penumpang itu duduk di tempat favorit gue lagi-___-, tapi cuma satu orang sih yang duduk disitu, jadi gue putuskan untuk duduk ditempat itu juga. Sebelum gue duduk, gue liat si penumpang, yang berjenis kelamin laki-laki itu nunduk. Karena reflek, gue pun ikutin arah pandang dia. Dan ternyata dia benerin letak tongkatnya. Gue baru sadar kalo dia adalah seorang tuna daksa.

Gue sempet dilema untuk milih tempat duduk. Yap, disatu sisi gue pengen duduk ditempat favorit, disatu sisi gue ga tega buat ngalangin jalan buat dia keluar. Akhirnya gue putuskan untuk ga duduk di tempat favorit gue. Gatau kenapa kayaknya dia kecewa gara-gara gue ga duduk di samping dia. Oke sindrom ge-er gue keluar--v. Abis gue liat dia nengok ke belakang gitu, walaupun gatau raut mukanya gimana, soalnya gue ga pake kacamata sih, kan gue mengidap kelainan mata yang cukup parah (read:rabun jauh).
Selama diperjalanan, gatau kenapa banyak banget yang menghindar untuk duduk sama cowok itu. Apa itu cuma perasaan gue aja kaliya? Tau ah gelep. Akhirnya setelah sampe tujuan, gue pun turun. Yaiyalah turun, masa mau nginep disitu?-_-. Tak lupa gue ngasih dia gaji karena udah nganterin gue. Enak ya jadi supir kayak gitu, tiap turun masa digaji coba._.v

Sekitar sejam kemudian gue pun selesai ngerjain deadline gue, walaupun cuma sebagian, akhirnya gue pun pulang. Sambil nunggu kendaraan yang biasanya gue naikin, gue pun berpikir, kira-kira orang tadi sakit hati ga ya? Secara banyak banget yang menghindar. Apa dia juga sakit hati dengan sikap gue yang secara langsung bisa di tangkep kalo itu juga perlakuan menghindar. Walaupun ga bermaksud kayak gitu ya tapi gimana ya.. gue jadi ga enak sama dia. Bukannya gue ada feeling tertentu, gue cuma ngerasa tiap ngeliat orang-orang seperti dia, gue seperti bagian dari orang tersebut. Gue jadi bisa ngerasain gimana sedihnya, sakitnya. Kok bisa? Gue juga gatau.

Mungkin orang-orang kebanyakan cuma ngerasa 'kasihan' dengan tanda kutip yang artinya 'miris amat ya ni orang'. Gue tau masih ada kok orang yang ga kayak gitu-gitu amat. Dan gue pun mulai sadar, harusnya gue bersyukur.

Ya, bersyukur! Gue sadar, selama ini gue udah kufur nikmat. Gue ga pernah bersyukur dengan paras, bentuk tubuh, semua yang udah Allah beri ke gue ga pernah gue syukuri, gue selalu mendambakan apa-apa yang ga ada didalam diri gue, bahkan gue yakin gue ga pernah bersyukur kalo gue udah dilahirkan didunia ini.
Harusnya dengan lihat keadaan orang tadi gue bisa belajar bersyukur. Bersyukur udah dilahirkan dengan sempurna ke dunia ini, tanpa cacat sedikitpun. Mata ada dua, telinga ada sepasang, pokoknya lengkap tanpa ada yang kurang sedikit pun. Harusnya gue bersyukur masih diberi kehidupan sama yang diatas. Dan yang paling penting gue harus bersyukur masih diberi nikmat islam. Coba kalo gue ditakdirin jadi seorang tuna daksa, gue yakin gue ga akan berani liat indahnya dunia ini, gue ga akan berani menghadapi semuanya. Naudzubillah ya Allah:(.

Yap akhirnya selesai juga ya gue cerita. Maaf kalo kalian semua yang baca ini jadi bosen atau apapun, ga ada maksud mau kayak gitu kok, sumpeh dah.-.v
Makasih juga udah mau baca tulisan ini, semoga bisa diambil hikmahnya deh ya:). Gue juga berharap semoga cowok tadi baca tulisan ini, sorry banget buat kejadian tadi sore, semoga kita bisa ketemu lagi biar gue bisa minta maaf langsung ke lo:)

Bye-bye semuanyaaa, muahmuah:3