Hari ini tepat lima tahun aku meninggalkan ibu kota. Hari dimana aku mencoba melupakan kisah kelamku--dengan seseorang dimasa lalu--. Sibuk berdamai dengan diri yang selalu egois dengan keinginan-keinginan yang nyatanya tak membawa perubahan baik pada diriku sendiri. Ya itulah aku, seseorang yang sangat keras akan pendiriannya, yang sangat percaya akan kata hati dan intuisinya. Padahal kata hati dan intuisi terkadang tak selalu benar, bukan?
Dan hari ini aku kembali...
Ya, aku kembali. Kembali ke tempat ini lagi. Seketika ingatan itupun terulang kembali. Akan tetapi deringan handphone-ku membuatku menghentikan lamunanku. Kulihat layar handphone-ku, tertera tulisan Fani's calling. Ah dasar anak itu, selalu saja menggangguku.
"Halo fan, ada apa sih? ganggu gue aja lo", gerutuku padanya.
"Ih kok lo gitu sih? Jadi gue ganggu nih? Yaudah gue tutup deh telponnya."
"Etdah ni anak, baper amat yak? Gue cuma bercanda fani sayangggg."
"Plis deh nis, ga usah pake sayang-sayangan ya. Gue langsung to the point aja deh, lo dateng kan ke acara reuni SMA kita nanti?". Skakmat fani padaku.
Deg! Pertanyaan fani sangat tepat sasaran. Mati sajalah kau nis!, umpatku dalam hati.
"Emm, ga tau deh fan. Liat aja nanti ya." Jawabku sekenanya.
"Kok gitu sih nis? Pokoknya lo harus dateng! Cukup pas perpisahan aja lo ga dateng dan pergi gitu aja ke Jogja tanpa pamit sama gue dan juga dia. Lo kan dulu juga udah janji ke gue bakal dateng ke acara reunian SMA. Mau sampe kapan sih nis lo terpuruk gara-gara bajingan itu? Apa 5 tahun ga cukup buat nyembuhin hati lo?", cerca fani sarkastik.
"Jujur aja fan, gue belom bisa ngelupain semua itu. Gue belom sanggup ketemu lo dan terutama... dia fan.", lirihku.
"Mau sampe kapan sih lo gini terus? Lo ga bisa terus begini nis. Sama aja lo itu nyiksa diri lo! Lo harus hadepin semua ini nis, lo harus bangkit. Jangan cuma gara-gara si brengsek itu elo ga bisa raih mimpi-mimpi lo lagi. Ada gue, ada dia juga yang nunggu elo. Kita siap ngebantu lo buat hadepin semua ini, nis! Inget nis, lo harus dateng, gue tau elo orangnya ga pernah ingkar janji! Gue tunggu lo disana, lo tau tempatnya kan? Yaudah gue cuma mau ngomong gitu aja, bye!".
Ucapan Fani begitu menohok diriku. Ku tatap kembali secarik kertas tersebut. Acara Reuni SMA Harapan Bangsa. Inilah alasan ku kembali ke kota ini, untuk memenuhi janjiku kepada Fani, sahabat karibku. Dan juga untuk menemuinya--seseorang yang tanpa kusadari telah mengisi relung hatiku, menghapus sedikit demi sedikit kesakitan yang sedang kurasakan--. Dia adalah Alfa, seseorang yang dengan kesederhanaannya berhasil memikat hatiku waktu pertama kali dia mengajakku bicara. Pasti kalian kira kami sekelas bukan? Haha, jawabannya adalah tidak. Kami adalah teman beda kelas--yang hanya saling tahu nama saja--. Alfa adalah salah satu personel band di sekolah kami. Walau begitu, aku belum tertarik dengan dirinya. Ketertarikan ku muncul disaat kami berada dalam satu kelompok belajar. Saat itu pertama kali kami berbicara, dalam konteks pelajaran tentunya. Hari-hari pun berlalu, kami pun semakin akrab, tanpa kusadari ku terpikat pada sosok seorang Alfa. Dia adalah sosok yang berbeda, terutama jika dibandingkan dengan bajingan itu. Akan tetapi, luka itu kembali menyadarkanku. Aku takut untuk memulai hal baru kembali. Ya, trauma itu selalu menghantuiku. Pada akhirnya, aku memendam perasaanku terhadap Alfa. Mencintainya dalam diam, berharap jika trauma itu hilang, sehingga aku bisa memulai kisahku dengan dia--Alfa.
Lamunanku terhenti. Kulihat jam dinding menunjukkan jam 12 siang. Aku terlonjak, bergegas untuk bersiap-siap. Fani benar, mau tak mau aku harus datang. Ini janjiku, janji yang telah kuberikan kepada Fani dan dirinya, Alfa.
Kutatap gedung didepanku. SMA HARAPAN BANGSA. Seketika bayangan Alfa menari-nari di pikiranku. Oh Tuhan, aku rasa aku telah gila karena cinta! Ku hembuskan nafas panjang, kulangkahkan kaki ku untuk masuk ke gedung ini, kucoba mengikuti kata hatiku kemana aku akan melangkah, hingga akhirnya langkahku pun terhenti. Perpustakaan. Bayangan tentang kami--aku dan Alfa--menari kembali di pikiranku. Hingga akhirnya ku beranikan diriku untuk masuk kedalam ruangan tersebut. Tak ada yang berbeda dari ruangan tersebut, masih sama persis saat terakhir kali aku berada di tempat ini. Tak lama kemudian aku mendengar suara itu, suara yang telah lama aku rindukan.
"Nisa? Kamu nisa kan?", Alfa--seseorang yang sangat aku rindukan itu--memanggilku.
"Alfa? Ini kamu? Kamu gak banyak berubah ya, haha. Kamu apa kabar? Gimana kuliahnya? Udah wisuda? Atau malah sekarang udah kerja?". Tanyaku. Basi banget kamu nis, padahal kan kamu itu stalkers abadi dia, pake sok-sokan nanya segala, kamu kan udah tau dia kerja dimana. Dasar modus!, Batinku berbicara. Sialan.
"Alhamdulillah aku baik-baik aja kok nis, udah wisuda dan udah kerja juga. Oh iya, ada sesuatu hal yang mau aku omongin ke kamu." Tanya Alfa.
"Oh mau ngomong apa Al? Ngomong aja kali.", Jawabku. Jujur aja aku tegang. Tuhan, tolong bantu aku.
"Gini, soal perkataannya Fani, apa semua itu bener? Tentang perasaan kamu ke aku, semuanya serius?", Tanya Alfa serius.
Ya, aku rasa ini adalah waktu yang tepat. Tuhan, bantu aku, kumohon.
"Iya Al, semuanya bener. Tentang perasaan itu juga bener. Maaf kalo kamu gak suka sama semua ini. Kamu bisa kok ngelupain semua perasaan aku. Anggap aja aku masih sama seperti dulu, masih temanmu.", Jawabku lirih.
"Jujur nis, aku seneng banget kalo kamu punya perasaan yang sama seperti aku. Tapi kenapa waktu itu kamu pergi? Apa kamu gak ingin kita bersama?" Tanya Alfa kepadaku.
"Bukan begitu Al, aku hanya merasa gak pantas bersama kamu, kamu itu terlalu sempurna buat aku, apalagi aku belum yakin apakah aku bisa sembuh dari trauma ku ini. Trauma akan hubungan yang serius Al. Aku bener-bener gak tau Al harus gimana." Jawabku terisak.
"Sstt, kamu ga boleh ngomong gitu Nisa, ga ada manusia yang sempurna. Dan masalah trauma itu, apa 5 tahun belum cukup untuk menghilangkan trauma itu? Jika belum, maka beritahu aku berapa lama lagi aku harus menunggumu, Nis?", Tanya Alfa serius.
Deg! Akupun tertegun. Sungguh tak menyangka bahwa dia, Alfa mengatakan hal seperti itu. Betapa beruntungnya aku!
"Bantu aku Al, bantu aku untuk memmusnahkan trauma itu."
Dan akhirnya akupun menangis di bahu Alfa. Menyandarkan semua beban yang selama ini kupikul sendiri.
Dan hari ini aku kembali...
Ya, aku kembali. Kembali ke tempat ini lagi. Seketika ingatan itupun terulang kembali. Akan tetapi deringan handphone-ku membuatku menghentikan lamunanku. Kulihat layar handphone-ku, tertera tulisan Fani's calling. Ah dasar anak itu, selalu saja menggangguku.
"Halo fan, ada apa sih? ganggu gue aja lo", gerutuku padanya.
"Ih kok lo gitu sih? Jadi gue ganggu nih? Yaudah gue tutup deh telponnya."
"Etdah ni anak, baper amat yak? Gue cuma bercanda fani sayangggg."
"Plis deh nis, ga usah pake sayang-sayangan ya. Gue langsung to the point aja deh, lo dateng kan ke acara reuni SMA kita nanti?". Skakmat fani padaku.
Deg! Pertanyaan fani sangat tepat sasaran. Mati sajalah kau nis!, umpatku dalam hati.
"Emm, ga tau deh fan. Liat aja nanti ya." Jawabku sekenanya.
"Kok gitu sih nis? Pokoknya lo harus dateng! Cukup pas perpisahan aja lo ga dateng dan pergi gitu aja ke Jogja tanpa pamit sama gue dan juga dia. Lo kan dulu juga udah janji ke gue bakal dateng ke acara reunian SMA. Mau sampe kapan sih nis lo terpuruk gara-gara bajingan itu? Apa 5 tahun ga cukup buat nyembuhin hati lo?", cerca fani sarkastik.
"Jujur aja fan, gue belom bisa ngelupain semua itu. Gue belom sanggup ketemu lo dan terutama... dia fan.", lirihku.
"Mau sampe kapan sih lo gini terus? Lo ga bisa terus begini nis. Sama aja lo itu nyiksa diri lo! Lo harus hadepin semua ini nis, lo harus bangkit. Jangan cuma gara-gara si brengsek itu elo ga bisa raih mimpi-mimpi lo lagi. Ada gue, ada dia juga yang nunggu elo. Kita siap ngebantu lo buat hadepin semua ini, nis! Inget nis, lo harus dateng, gue tau elo orangnya ga pernah ingkar janji! Gue tunggu lo disana, lo tau tempatnya kan? Yaudah gue cuma mau ngomong gitu aja, bye!".
Ucapan Fani begitu menohok diriku. Ku tatap kembali secarik kertas tersebut. Acara Reuni SMA Harapan Bangsa. Inilah alasan ku kembali ke kota ini, untuk memenuhi janjiku kepada Fani, sahabat karibku. Dan juga untuk menemuinya--seseorang yang tanpa kusadari telah mengisi relung hatiku, menghapus sedikit demi sedikit kesakitan yang sedang kurasakan--. Dia adalah Alfa, seseorang yang dengan kesederhanaannya berhasil memikat hatiku waktu pertama kali dia mengajakku bicara. Pasti kalian kira kami sekelas bukan? Haha, jawabannya adalah tidak. Kami adalah teman beda kelas--yang hanya saling tahu nama saja--. Alfa adalah salah satu personel band di sekolah kami. Walau begitu, aku belum tertarik dengan dirinya. Ketertarikan ku muncul disaat kami berada dalam satu kelompok belajar. Saat itu pertama kali kami berbicara, dalam konteks pelajaran tentunya. Hari-hari pun berlalu, kami pun semakin akrab, tanpa kusadari ku terpikat pada sosok seorang Alfa. Dia adalah sosok yang berbeda, terutama jika dibandingkan dengan bajingan itu. Akan tetapi, luka itu kembali menyadarkanku. Aku takut untuk memulai hal baru kembali. Ya, trauma itu selalu menghantuiku. Pada akhirnya, aku memendam perasaanku terhadap Alfa. Mencintainya dalam diam, berharap jika trauma itu hilang, sehingga aku bisa memulai kisahku dengan dia--Alfa.
Lamunanku terhenti. Kulihat jam dinding menunjukkan jam 12 siang. Aku terlonjak, bergegas untuk bersiap-siap. Fani benar, mau tak mau aku harus datang. Ini janjiku, janji yang telah kuberikan kepada Fani dan dirinya, Alfa.
Kutatap gedung didepanku. SMA HARAPAN BANGSA. Seketika bayangan Alfa menari-nari di pikiranku. Oh Tuhan, aku rasa aku telah gila karena cinta! Ku hembuskan nafas panjang, kulangkahkan kaki ku untuk masuk ke gedung ini, kucoba mengikuti kata hatiku kemana aku akan melangkah, hingga akhirnya langkahku pun terhenti. Perpustakaan. Bayangan tentang kami--aku dan Alfa--menari kembali di pikiranku. Hingga akhirnya ku beranikan diriku untuk masuk kedalam ruangan tersebut. Tak ada yang berbeda dari ruangan tersebut, masih sama persis saat terakhir kali aku berada di tempat ini. Tak lama kemudian aku mendengar suara itu, suara yang telah lama aku rindukan.
"Nisa? Kamu nisa kan?", Alfa--seseorang yang sangat aku rindukan itu--memanggilku.
"Alfa? Ini kamu? Kamu gak banyak berubah ya, haha. Kamu apa kabar? Gimana kuliahnya? Udah wisuda? Atau malah sekarang udah kerja?". Tanyaku. Basi banget kamu nis, padahal kan kamu itu stalkers abadi dia, pake sok-sokan nanya segala, kamu kan udah tau dia kerja dimana. Dasar modus!, Batinku berbicara. Sialan.
"Alhamdulillah aku baik-baik aja kok nis, udah wisuda dan udah kerja juga. Oh iya, ada sesuatu hal yang mau aku omongin ke kamu." Tanya Alfa.
"Oh mau ngomong apa Al? Ngomong aja kali.", Jawabku. Jujur aja aku tegang. Tuhan, tolong bantu aku.
"Gini, soal perkataannya Fani, apa semua itu bener? Tentang perasaan kamu ke aku, semuanya serius?", Tanya Alfa serius.
Ya, aku rasa ini adalah waktu yang tepat. Tuhan, bantu aku, kumohon.
"Iya Al, semuanya bener. Tentang perasaan itu juga bener. Maaf kalo kamu gak suka sama semua ini. Kamu bisa kok ngelupain semua perasaan aku. Anggap aja aku masih sama seperti dulu, masih temanmu.", Jawabku lirih.
"Jujur nis, aku seneng banget kalo kamu punya perasaan yang sama seperti aku. Tapi kenapa waktu itu kamu pergi? Apa kamu gak ingin kita bersama?" Tanya Alfa kepadaku.
"Bukan begitu Al, aku hanya merasa gak pantas bersama kamu, kamu itu terlalu sempurna buat aku, apalagi aku belum yakin apakah aku bisa sembuh dari trauma ku ini. Trauma akan hubungan yang serius Al. Aku bener-bener gak tau Al harus gimana." Jawabku terisak.
"Sstt, kamu ga boleh ngomong gitu Nisa, ga ada manusia yang sempurna. Dan masalah trauma itu, apa 5 tahun belum cukup untuk menghilangkan trauma itu? Jika belum, maka beritahu aku berapa lama lagi aku harus menunggumu, Nis?", Tanya Alfa serius.
Deg! Akupun tertegun. Sungguh tak menyangka bahwa dia, Alfa mengatakan hal seperti itu. Betapa beruntungnya aku!
"Bantu aku Al, bantu aku untuk memmusnahkan trauma itu."
Dan akhirnya akupun menangis di bahu Alfa. Menyandarkan semua beban yang selama ini kupikul sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar