Rabu, 25 Mei 2016

Coretan Masa Lalu (Cerpen)

Seperti biasanya, malam ini ku lalui dengan kesedihan, dengan tangisan, dan dengan air mata.

Ya, sekarang hanya ada penyesalan semata, terlebih sesalku tentang 'mengapa ku mengenalmu'.

Bisakah aku kembali ke masa lalu? Mengubah semua kejadian yang telah lalu?

Bila saja ku tak pergi ke kota ini, mungkin kita tak akan pernah bertemu, mungkin kita tak akan pernah mengenal, dan mungkin tak akan pernah ada cerita tentang 'kita'.

Cerita tentang kita? Cih, yang benar saja. Apa masih pantas kau menjadi bagian dari cerita ini setelah apa yang kau lakukan kepadaku?

Mungkin tak ada yang tahu akan sikapmu yang keji menyerupai iblis itu. Ku akui kelihaian sandiwara mu itu.

Perangai nan indah berbalut kesan misterius. Kau berhasil memainkan peranmu dengan sangat baik.

Hingga semua terbuai akan lihainya sandiwaramu yang tanpa celah itu, termasuk diriku.

Bertahun-tahun ku masuk dalam perangkap 'indah' milikmu. Ku berikan semuanya padamu. Kesedihan, kegembiraan, kepercayaan, kisah kelamku, serta... hati ini pun ku berikan padamu.

Hingga saat itu tiba. Terungkaplah semua kebohongan itu. Semua hanya sandiwara belaka. Memang sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga, kan?

Setelah itu aku hanya bisa meratapi diri ini. Timbul lah berbagai pertanyaan kepada Sang Pemilik hati ini, Yang memiliki jiwa ini.

Untuk apa dia melakukan semua ini? Apa untungnya untuk dia? Kenapa aku harus mengenalnya? Kenapa harus aku yang mengalami semua ini? Kenapa harus aku, Tuhan? Kenapa?

Dan akhirnya aku mengambil kesimpulan dari semua peristiwa ini. Semua ini merupakan takdir-Nya. Takdir yang tak bisa diganggu gugat oleh hamba-Nya.

Tetapi aku hanyalah manusia biasa yang dengan mudahnya terhasut oleh bujuk rayu setan, bukan seorang manusia yang mempunyai hati suci nan bersih bak malaikat.

Aku butuh pelampiasan. Aku tak sanggup menahan beban ini sendirian. Dan pada akhirnya ku luapkan semua emosi ku pada nya.

Dia, yang telah menyia-nyiakan kepercayaan ku.

Dia, yang telah menghancurkan hidupku dan juga hatiku.

Dia, yang telah membuatku hancur berkeping-keping.

Ya, semua sindiran, makian, cacian, serta cercaan ku keluarkan untuk dirinya. Bahkan, dia pantas mendapatkan yang lebih dari ini.

Lalu apa yang dia lakukan? Apakah dia membalas semua perlakuan ku itu?

Tidak, dia tidak membalasnya. Yang dia lakukan hanya mencoba meminta maaf, mencoba menjelaskan tentang semuanya, dan mencoba membela diri juga, pastinya.

Apakah aku memaafkannya begitu saja? Aku akan menjawab tidak. Ya, aku tidak memaafkannya. Aku sangat kecewa, marah, hancur, apalagi saat mendengar alasan mengapa ia melakukan semua ini.

Hanya karena satu alasan, yaitu hanya bermain saja. Hanya bercanda saja.

Kau pikir kepercayaan itu adalah mainan? Kau pikir hati dan perasaan ini merupakan sebuah permainan?

Semuanya telah hancur. Kepercayaan terhadap seseorang dan juga terhadap cinta sejati mungkin tak akan bisa ku dapatkan kembali.

Akan tetapi, aku tak ingin terus berlarut dalam kesedihan ini. Perjalanan ku masih panjang, aku tak boleh kalah dengan kisah roman picisan yang rendahan seperti ini.

Ya, roman picisan rendahan yang telah membunuh perasaanku, mematikan hatiku.

Pada akhirnya, aku memutuskan untuk mencoba berdamai dengan masa lalu. Ya, aku mencoba memaafkannya.

Akan tetapi dengan tidak tahu malunya, ia memintaku menjadi teman dekatnya, menjadi sahabatnya.

Hei, apakah kau tidak punya malu lagi, Hah? Meminta orang yang telah kau sakiti hatinya, kau hancurkan kepercayaannya untuk kau jadikan sahabatmu? Aku tak sudi, kau tahu.

Katakanlah aku jahat, picik, atau tak berperikemanusiaan. Kuakui diriku bukanlah seseorang yang bisa berbesar hati memaafkan semua kesalahan. Tapi apakah kalian tahu? Aku hanya mengikuti kata hatiku, membiarkan intuisi ku berjalan. Aku hanya tak ingin diperlakukan seperti hari kemarin, untuk kesekian kalinya.

Jika ditanya berhasilkah diriku dalam berdamai dengan masa lalu, jawabannya tidak.

Mungkin tak ada yang tahu, karena topeng inilah penyebabnya. Topeng yang dihiasi dengan senyum dan tawa lebar.

Lalu bagaimana dengan keadaan hati ini? Kupikir masih sama seperti kemarin, disaat kebohongan itu terbongkar.

Sakit. Sangat sakit.

Dan seperti biasanya, malam ini ku lalui dengan kesedihan, dengan tangisan, dan dengan air mata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar